Mempertahankan Lahan Pertanian untuk Pemenuhan Pangan Masyarakat

Atambua (Antara News) - Geliat perkembangan pembangunan dengan masuknya sejumlah invetasi di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, wilayah batas negara RI-Timor Leste, tidak serta-merta menggerus semangat pemerintah untuk mengalihfungsikan lahan pertanian yang ada.  

Selayaknya, kabupaten lain yang berbatasan dengan negara tetangga, lirikan investor jasa dan perdagangan yang kuat akan sangat memakan banyak lahan sebagai tempat usaha. Namun demikian, Pemerintah Kabupaten Belu, sudah final menyatakan tidak mengalihfungsikan lahan untuk kepentingan komersial lainnya.

"Pemerintah tidak pernah mengubah status lahan pertanian baik itu lahan kering maupun lahan sawah untuk dijadikan lahan komersial lain," kata Bupati Belu Joachim Lopez di Atambua, ibu kota Kabupaten Belu.

Pemerintah Kabupaten Belu, kata Joachim sangat konsisten dengan pola hidup dan mata pencaharian masyarakat daerah tersebut, yang sebagian besarnya bergantung pada pertanian, baik lahan kering dan lahan persawahan.

Ketergantungan masyarakat terhadap lahan pertanian tersebut itulah, yang justru telah mendorong pemerintah untuk terus mendorong masyarakat petani untuk tetap bertahan dan terus meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya.

Potensi pertanian yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Belu kata Joachim adalah jagung dan padi, dan karena itu, segala upaya terus dilakukan pemerintah agar produktivitas hasil pertanian di kawasan batas negara itu bisa terus meningkat, demi peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Disebutkannya, untuk produktivitas padi sekali panen bisa mencapai 8.761 ton di atas lahan yang dikerjakan 4.631 hektare, sedang jagung bisa berporduksi sebanyak 52.727 ton dari lahan panen 27.750 hektare.

Bahkan kata Joachim, Pemerintah Kabupaten Belu memberikan subsidi lahan gratis bagi warga petani lahan kering guna mengembangkan pertanian dan demi pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga.

"Langkah itu kita ambil dalam rangka memudahkan warga petani di daerah ini untuk bisa terus melakukan aktivitas sebagai petani, agar bisa memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangganya," kata Joachim.

Menurut Joachim, para petani apapun alasannya harus tetap hidup dengan tetap melaksanakan aktivitasnya sebagai petani, kendati di tengah kondisi iklim yang tidak menentu pada musim kemarau ini.

Selain memberikan subsidi dalam bentuk pengelolaan lahan, Pemerintah Kabupaten Belu juga menyalurkan bantuan traktor, kerja sama dengan Kementerian Daerah Tertinggal, untuk memaksimalkan lahan yang dikelola para petani, baik di lahan kering maupun pada lahan basah.

Untuk lahan basah, Kementerian Daerah Tertinggal memberikan bantuan traktor kecil sebanyak 105 unit, dan untuk lahan kering akan diberikan dua traktor besar.

"Sejumlah traktor itu sudah dalam perjalanan ke daerah ini dan tidak lama lagi sudah bisa dimanfaatkan oleh para petani di daerah ini," kata Joachim.

Dia mengatakan, wilayah Kabupaten Belu yang berapit dengan Negara Timor Leste, memiliki sejumlah potensi pertanian, selain jagung dan padi juga potensi di sektor perikanan dan peternakan.

Untuk memanfaatkan hasil dari seluruh potensi yang dimiliki tersebut, pemerintah Kabupaten Belu terus melakukan upaya melalui kebijakan bantuan dan terus mendorong para petani meningkatkan produktivitas pertaniannya.

Di sektor pertanian, lanjut dia, Pemerintah Kabupaten Belu juga terus menyediakan sumber air sebagai irigasi, untuk bisa dialirkan ke setiap lahan yang sedang dimanfaatkan oleh warga petani.

Ada sejumlah embung kata Joachim, yang terus dikembangkan di sejumlah titik di wilayah ini, untuk pemanfaatan lahan pertanian lahan kering, demi peningkatan produktivitas para petani.

"Untuk lahan pertanian di sekitar embung itu, pemerintah memberikan bantuan motor penggerak air, biar mudah memanfaatkan air tersebut, selain membangun sejumlah sumur bor," kata Joachim.

Dia menjelaskan, untuk pencapaian pemberdayaan ekonomi masyarakat, khusus pertanian dan peternakan, hal yang terpenting yang harus disiapkan oleh pemerintah sebagai salah satu bentuk perhatiannya adalah, penyediaan air baku untuk irigasi.

"Apalagi jika memasuki musim kemarau, hal yang paling rawan adalah air. Karena itu sangat mustahil akan ada peningkatan produktivitas jika sumber air baku tidak disiapkan," kata Joachim.

Untuk itulah, lanjut dia, Pemerintah Kabupaten Belu, terus berupaya melakukan segala cara yang bisa memberikan kemudahan kepada para petani dalam penyediaan air baku untuk irigasi.

"Kami berharap dengan sejumlah langkah strategis yang dilakukan pemerintah tersebut, bisa memberikan kemudahan bagi para petani untuk meningkatkan produktivitas pertaniannya menuju ketahanan pangan keluarga dan kehidupan yang lebih baik serta sejahtera," kata Joachim.


Saluran Irigasi Tersier

Wakil Bupati Belu, Taolin Lodovikus, mengaku, Pemerintah Kabupaten Belu, sedang mengupayakan pembangunan saluran irigasi tersier yang akan mampu mengairi sekitar 800 ha lahan kering yang ada di seputaran wilayah Bendungan Benenain.

Menurut dia, dengan langkah itu, para petani pemilik lahan kering yang ada di seputaran bendungan tersebut akan bisa menikmati aliran air sebagai sumber irigasi pertanian untuk peningkatan hasil produksi pangan.

"Kendati pelaksanaan pembangunan saluran irigasi tersier itu dilakukan bertahap hingga 2014, namun kami yakin akan sangat membantu masyarakat petani di sekitar daerah tersebut," kata dia.

Dia menyebutkan, sejumlah daerah yang bakalan menikmati hal tersebut, berada di beberapa lokasi di antaranya, Kobalima, Hikrik, sukabitete, Raimena, Malaka Tengah, Wewiku, Malaka Barat serta sejumlah wilayah di sekitar sumber bendungan tersebut.

Menurut dia, hingga saat ini lahan yang sudah menikmati hasil pembangunan irigasi tersier yang bersumber dari bendungan Benenain itu mencapai 180 hingga 200 ha.

Dengan demikian, lanjut dia, lahan tadah hujan atau yang sering disebut sebagai ladang, dengan sendirinya bisa diubah menjadi sebuah lokasi persawahaan yang memiliki sumber alir air cukup untuk pengairan.

"Itu artinya kita telah mengubah lahan kering menjadi lahan persawahan yang memiliki sumber pengairan yang tak kunjung padam," kata Lodovikus.

Dari aspek ketersediaan bibit untuk kelanjutan pertanian para petani, Lodovikus mengaku selalu menyediakan dan disalurkan kepada petani yang masih mengalami kekurangan, agar bisa dimanfaatkan untuk kelanjutan aktivitas pertaniannya.

Sejak dulu, lanjut dia, telah menjadi kebiasaan bagi para petani di Kabupaten Belu, untuk tidak mengkonsumsi hasil panen, yang sudah dijadikan sebagai bibit untuk musim tanam berikutnya.

Hal itu, kata dia hanya untuk memudahkan para petani agar tidak lagi mengalami kesulitan akan bibit pada setiap saat memasuki musim tanam berikutnya.


Kebijakan pemerintah


Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Anis Tay Ruba mengatakan, seiring dengan tetap memproteksi lahan pertanian warga, pemerintah NTT segera mengeluarkan kebijakan dan larangan bagi pengalihan lahan tersebut.

Kebijakan dan larangan tersebut, nantinya akan dijadikan acuan baik bagi pemerintah kabupaten/kota yang ada, juga warga pemilik lahan, untuk memanfaatkan lahan pertanian yang ada.

"Draft peraturannya sedang kita susun dan dalam waktu dekat akan kita bawa dalam pembahasan di DPRD," katanya.

Sesungguhnya, lanjut Anis, kebijakan tersebut hanya untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat pemilik lahan, dari sejumlah semangat pengalihfungsian lahan kepada kegiatan komersial lainnya, yang justru akan mengganggu aktivitas dan produktivitas pertanian masyarakat.

Dan untuk semuanya itu, hanya bergantung kepada ketetapan pemilik lahan untuk terus bertahan, menggarap lahannya demi pemenuhan pangan dalam rumah tangga.

Editor : Zita Meirina